Senin, 12 Oktober 2009

STRATEGI PEMASARAN ALA “ TUKANG KORAN “

Judul diatas memang terdengar lucu terlebih bila anda tidak membaca ulasan ini secara lengkap dan utuh.

Hari ini saya mendengar sesuatu yang berbeda dari tukang koran yang biasa lewat di depan rumah. Jika biasanya dia hanya berteriak "Koran - Jawa Pos - Kompas" hari ini dia menjual dengan teknik lain. Saya tidak begitu jelas mendengar suaranya hari ini (mungkin karena ini hari pertama puasa). Dia berteriak agak pelan, sayup-sayup saya dengar " Perampok dan perompak beraksi 1 Brimob tewas terbunuh".

Bila anda berpendapat berita seperti itu adalah sesuatu yang biasa, maka dapat saya bilang anda benar. Pertanyaannya adalah kenapa dia merubah strategi penjualannya yang biasanya menjadi seperti ini?

Pertanyaan diatas mungkin tidak akan terjawab kalau saya tidak cerita lebih lanjut mengenai lokasi rumah saya. Beberapa dari anda mungkin sudah menebaknya dengan baik. Bagi anda yang masih penasaran, saya tinggal di Jojoran III, ini berarti si penjual koran tersebut merubah strategi penjualannya dengan menyebutkan headline yang terkait dengan lokasi tempat dimana dia berjualan koran.

Strategi tersebut ternyata berhasil. Orang cenderung penasaran ketika berhadapan dengan berita yang menyangkut apa, dimana dan siapa. Seingat saya tetangga saya jarang sekali beli koran. Hari itu dia membeli koran dengan headline mengenai pembunuhan di Jojoran I. Benar-benar jeli, si penjual koran mampu melihat pasar dengan baik dan segera merubahstrategi penjualannya yang umum menjadi strategi penjualan yang diadaptasikan antara headline berita dan lokasi dimana dia menjual koran.

Apa yang bisa dipetik dari cerita ini ?

Untuk meningkatkan penjualan, terkadang kita harus menyesuaikan diri antara kebutuhan pasar, selera pasar dan barang yang kita miliki. Contoh diatas merupakan bukti nyata bahwa ketika kita memiliki barang yang menarik untuk di jual di lokasi peruamahan tertentu, tukang koran itu langsung merubah teriakannya menjadi headline berita saat itu.

Inilah yang harus anda lakukan bila anda menjual barang seni. Peluang anda tentunya akan semakin meningkat bila anda menjual ke kolektor barang antik pada saat lelang atau pameran barang antik bukan? Strategi penjualan memang harus selalu beradaptasi dengan kebutuhan pasar secara umum. Ketika dunia sedang dalam masa kritis masalah pangan, harga hasil peternakan dan pertanian meningkat secara signifikan di seluruh dunia. Ini berarti peluang untuk menaikkan harga bagi mereka yang tingkat penjualannya sudah tinggi.

Bagaimana dengan mereka yang penjualannya belum tinggi? Bisa dibilang untuk mereka yang tingkat penjualannya belum tinggi ini merupakan moment tepat untuk meningkatkan penjualan dengan berbagai macam cara. Beberapa dari mereka mungkin tidak menaikkan harga, namun berharap agar tingkat penjualannya naik.

Strategi penjualan memang suatu yang sebaiknya bersifat statis agar pasar mengenal diri kita. Namun demikian perlu diingat bahwa animo masyarakat berubah demikian pula dengan selera pasar. Keadaan bersifat dinamis mengikuti sebuah trend. Untuk itu agar anda tidak ketinggalan dengan pesaing anda, lakukan introspeksi yang dianggap perlu untuk melandasi strategi penjualan baru yang mungkin perlu anda ambil. Strategi ini bisa bersifat sementara (hanya pada saat trend berlangsung) atau seterusnya (bila strategi penjualan lama sudah tidak relevan lagi), Itulah menurut saya sebuah strategi tukang koran yang mampu meningkatkan sales di hari tertentu. Dengan memanfaatkan kebutuhan dasar manusia akan informasi, dia merubah strategi penjualannya secara umum menjadi strategi penjualan secara khusus.
TEMPO Rencana Kerja Tahun 2006
1. Rencana di bidang Pemasaran :
• Rencana Pemasaran pada tahun 2009 adalah mempertahankan volume penjualan untuk sirkulasi Koran maupun iklan akibat kenaikan harga yang dilakukan pada tahun 2005.
• Strategi penjualan Majalah dan Koran adalah mengisi titik-titik kosong dengan cara, kanvasing, penjualan langganan yang bekerjasama dengan agen dan melakukan sales force serta bulk order serta memberikan insentif penjualan kepada agen, sub agen dan pehgecer.
• Melakukan evaluasi jalur distribusi untuk meningkatkan efisiensi dan efektifitas pengiriman Majalah dan Koran. Khusus untuk penyebaran distribusi Koran masih difokuskan di wilayah Jabodetabek dan Bandung
dengan target pasar kelas menengah/atas.

Page 16
TEMPO Rencana Kerja Tahun 2006
1. Rencana di bidang Pemasaran (lanjutan):
• Strategi penjualan iklan Koran dan Majalah adalah melengkapi kekurangan
jumlah tenaga penjual, melakukan training untuk meningkatkan skill
penjualan, memperkuat tim penulis advertorial dan produksi iklan,
melakukan penjualan iklan paket Majalah dan Koran dengan seminar dan
survey yang diperlukan oleh klien.
• Untuk percetakan, pada tahun 2006 ini strategi pemasaran masih lebih
difokuskan kepada pasar diluar group dan diarahkan pada cetakan-cetakan
yang beroplah besar (Mass Product) agar bisa mengisi kapasitas mesin
Commercial Web-Harris dan mesin Uniman serta Goss yang sudah
dimodifikasi dengan mesin 4 Hi (four Hi), 2 Hi (two Hi) serta mesin Tri-Color.

Page 17
TEMPO Rencana Kerja Tahun 2006
2. Rencana di bidang Operasional :
• Pada tahun 2006 perbaikan terhadap mutu tulisan akan terus dilakukan.
Program evaluasi terus ditingkatkan, dengan melibatkan para redaktur
senior yang dulu pernah bekerja di Majaiah Tempo. Penambahan tenaga
wartawan juga dilakukan dengan seleksi yang ketat, dengan mengandalkan
pada promosi dari dalam yaitu, dari Tempo News Room dan Koran Tempo,
dan mengirim wartawan untuk ikut dalam berbagai kursus sesuai dengan
bidangnya untuk menambah pengetahuan. Selain itu juga rencana untuk
mengundang pakar di berbagai bidang untuk diskusi terus dilakukan.
• Program percepatan dead line masih menjadi fokus di bidang keredaksian
pada tahun 2006 agar baik untuk di Majaiah maupun di Koran, Diharapkan
dengan program percepatan dead line ini Majaiah Tempo akan hadir tepat
waktu bersama-sama di seluruh Indonesia pada hari Senin pagi

Koran Murah, Ancaman Terhadap Pers di Daerah? 13/02/2008 05:34:10 DI kota-kota besar wilayah Jateng-DIY akhir-akhir ini dijual sejumlah koran pagi terbitan ibukota dengan harga seribuan (Rp 1.000). Padahal harga bandrolnya antara Rp 2.500 sampai dengan Rp 2.900. Penjualannya dilakukan sesudah pukul 12.00 siang. Tetapi ada pula yang dijual sebelum pukul 12.00 siang. Yang menarik, salah satu koran yang dijual seribuan tersebut sejak Januari 2008 merupakan edisi update, yakni edisi perubahan, walaupun yang diubah hanya halaman 1 dan sambungannya. Sejauh ini belum ada tanggapan resmi dari otoritas pers di daerah.
Secara umum sejatinya pasar media massa cetak telah tersegmentasi. Tetapi di tengah situasi perekonomian yang sulit, penjualan koran murah ibukota di daerah tetap menimbulkan permasalahan. Walaupun waktu penjualannya dilakukan sesudah tengah hari, tetap akan menimbulkan ekses-ekses yang cenderung merugikan pelaku bisnis media lokal, baik penerbit maupun agen/sub-agen/pengecer.
Dampak negatif dari penjualan koran murah langsung dirasakan oleh para agen, sub-agen dan pengecer koran ibukota yang melayani pelanggan tetap. Berdasarkan survei lapangan, semua agen, sub-agen dan pengecer yang melayani pelanggan, umumnya mengatakan bahwa kehadiran koran murah pasca tengah hari telah menurunkan jumlah pelanggan mereka. Banyak pelanggan yang berhenti berlangganan dan memilih membeli secara eceran sesudah tengah hari.
Dampak positif koran murah tentu saja juga ada. Masyarakat menjadi dimanjakan, karena dapat memperoleh informasi media cetak dengan harga murah. Sayangnya, koran murah tadi hanya dijual di kota-kota, bukan di desa-desa. Idealnya, bila tujuannya hendak memeratakan informasi, atau --menterengnya-- hendak mencerdaskan masyarakat, koran murah tadi dijual di pelosok-pelosok pedesaan yang selama ini masyarakatnya sulit mengakses informasi dari media cetak. Tetapi karena penjualan koran murah tadi bukan untuk tujuan pemerataan informasi, maka penjualan koran murah tetap hanya dilakukan di perkotaan.
Fenomena Kapitalisme
Berdasarkan informasi yang berhasil diperoleh dari pihak-pihak yang mengetahui betul alasan penjualan koran murah, paling tidak ada dua alasan yang mendasari fenomena banting harga tersebut. Pertama, bagi media yang sudah mapan, penjualan koran murah dilakukan untuk memenuhi kuota tiras yang sudah tercatat di lembaga survei pemasaran. Karena sudah tercatat tirasnya sekian dan informasi akurat tersebut dijadikan acuan biro-biro iklan, maka jumlah media yang dicetak tetap dipertahankan. Berhubung saat ini daya serap masyarakat terhadap media cetak menurun, maka ‘koran sisa’ (yang tak ter-serap oleh pelanggan dan pembeli setia) harus tetap dilempar ke pasaran agar dibaca masyarakat. Dengan dibaca masyarakat, maka iklan-iklannya pun ikut dilihat.
Sebetulnya ‘koran sisa’ tadi bisa saja dibagikan secara gratis. Tetapi kalau dibagikan secara gratis, koran tersebut akan jatuh pamor, dan pihak yang ‘membantu membagikan’ tak akan memperoleh apa-apa. Dengan dijual murah, minimal ada ongkos ganti harga kertas dan ada upah untuk pihak yang ‘membantu membagikan’.
Alasan kedua, mengapa media dijual murah, tiada lain karena media tadi tidak laku di pasaran. Bahkan pada mulanya, media tersebut dilirik saja tidak. Padahal penerbitnya termasuk penerbit yang diperhitungkan oleh kalangan periklanan. Dalam konteks ini, aksi banting harga tadi merupakan bagian dari strategi promosi. Dengan dijual murah, diharapkan media tadi mulai dilirik masyarakat. Bila masyarakat mulai banyak yang kecanduan akan informasi yang disajikan, tentu saja strategi pemasarannya akan diubah.
Mengapa koran-koran murah tadi hanya dijual di perkotaan? Tiada lain karena motivasinya bukan demi pemerataan informasi, melainkan untuk penyebaran iklan dan informasi bisnis. Dan masyarakat urban adalah kelompok masyarakat yang punya potensi besar untuk membeli produk barang dan jasa yang diiklankan. Alasan lain koran murah hanya ditemui di perkotaan berkaitan dengan kebiasaan membaca. Secara umum tingkat melek huruf dan budaya baca masyarakat urban jauh lebih baik dibanding warga pedesaan.
Itulah fenomena kapitalisme. Di negara-negara industri maju, seperti Singapura, Jepang, AS, bahkan ada beberapa koran yang disediakan secara gratis. Koran-koran tersebut diterbitkan oleh penerbit yang sudah sangat mapan. Perolehan dari iklan sangat besar, sehingga memungkinkan koran terbitannya digratiskan. Dalam konteks koran murah, tidak ada tempat untuk hal-hal ideal, seperti pemerataan informasi dan usaha mencerdaskan masyarakat secara umum. Yang penting, koran tersebar ke masyarakat secara meluas, sehingga jumlah tiras tercatat di lembaga survei tetap terpenuhi, termasuk juga jumlah pembacanya. Dengan jumlah tiras dan jumlah pembaca yang tetap terjaga, dan bisa dikontrol kebenarannya, biro-biro iklan akan tetap memasang iklan di media tadi.

*)tulisan S Soeprapto, Pemerhati masalah media dan budaya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Mengenai Saya

Foto Saya
Bekerja sebagai tenaga pemasaran Iklan pada sebuah penerbitan koran lokal yang terbesar di Aceh.